Kamis, 09 Juni 2011

Persahabatan Abadi !


Comradeship That Immortal
Pagi hari saat aku terbangun tiba-tiba ada seseorang memanggil namaku. Aku melihat keluar. Vino temanku  sudah menunggu diluar rumahku, dia mengajakku untuk bermain bola basket.“Ayo kita bermain basket ke lapangan.” ajaknya padaku. “Sekarang?” tanyaku dengan sedikit mengantuk. “Besok! Ya sekarang!” jawabnya dengan kesal.“Sebentar aku cuci muka dulu. Tunggu ya!”, “Iya tapi cepat ya” pintanya.
Setelah aku cuci muka, kami pun berangkat ke lapangan yang tidak begitu jauh dari rumahku.“Wah dingin ya.” kataku pada temanku. “Cuma begini aja dingin payah kamu.” jawabnya. Setelah sampai di lapangan ternyata sudah ramai. “Ramai sekali pulang aja males nih kalau ramai.” ajakku padanya. “Ah! Dasarnya kamu aja males ngajak pulang!”, “Kita ikut main saja dengan orang-orang disini.” paksanya. “Males ah! Kamu aja sana aku tunggu disini nanti aku nyusul.” jawabku malas. “Terserah kamu aja deh.” jawabnya sambil berlari kearah orang-orang yang sedang bermain basket.
“Miun!” seseorang teriak memanggil namaku. Aku langsung mencari siapa yang memanggilku. Tiba-tiba seorang gadis menghampiriku dengan tersenyum manis. Sepertinya aku mengenalnya. Setelah dia mendekat aku baru ingat. “Siska?” tanya dalam hati penuh keheranan. Siska adalah teman satu SMP denganku dulu, kami sudah tidak pernah bertemu lagi sejak kami lulus 3 tahun lalu. Bukan hanya itu Bella juga pindah ke Bandung ikut orang tuanya yang bekerja disana. “Hai masih ingat aku nggak?” tanyanya padaku. “Siska kan?” tanyaku padanya. “Yupz!” jawabnya sambil tersenyum padaku. Setelah kami ngobrol tentang kabarnya aku pun memanggil Vino. “Bad! Sini” panggilku pada Vino yang sedang asyik bermain basket. “Apa lagi?” tanyanya padaku dengan malas. “Ada yang dateng” jawabku. “Siapa?”tanyanya lagi, “Siska!” jawabku dengan sedikit teriak karena di lapangan sangat berisik. “Siapa? Nggak kedengeran!”. “Sini dulu aja pasti kamu seneng!”. Akhirnya Vino pun datang menghampiri aku dan Siska. Dengan heran ia melihat kearah kami. Ketika ia sampai dia heran melihat Siska yang tiba-tiba menyapanya. “Siska?” tanyanya sedikit kaget melihat Siska yang sedikit berubah. “Kenapa kok tumben ke Pontianak? Kangen ya sama aku?” tanya Vino pada Siska. “Ye GR! Dia tu kesini mau ketemu aku” jawabku sambil menatap wajah Siska yang sudah berbeda dari 3 tahun lalu. “Bukan aku kesini mau jenguk nenekku.” jawabnya. “Yah nggak kangen dong sama kita.” tanya Vino sedikit lemas. “Ya kangen dong kalian kan sahabat ku.” jawabnya dengan senyumnya yang manis.
Akhinya Siska mengajak kami kerumah neneknya. Kami berdua langsung setuju dengan ajakan Siska. Ketika kami sampai di rumah Siska ada seorang anak laki-laki yang kira-kira masih berumur 4 tahun. “Sis, ini siapa?” tanyaku kepadanya. “Kamu lupa ya ini kan Dafa! Adikku.” jawabnya. “Oh iya aku lupa! Sekarang udah besar ya.”. “Dasar pikun!” ejek Vino padaku. “Emangnya kamu ingat tadi?” tanyaku pada Vino. “Nggak sih!”  jawabnya malu. “Ye sama aja!”. “Biarin aja!”. “Udah-udah jangan pada ribut terus.” Siska keluar dari rumah membawa minuman. “Eh nanti sore kalian mau nganterin aku ke mall nggak?”  tanyanya pada kami berdua. “Kalau aku jelas mau dong! Kalau Vino tau!” jawabku tanpa pikir panjang. “Ye kalau buat Siska aja langsung mau, tapi kalau aku yang ajak susah banget.” ejek Vino padaku. “Maaf banget Sis, aku nggak bisa aku ada latihan nge-band.”  jawabnya kepada Siska. “Oh gitu ya! Ya udah Un nanti kamu kerumahku jam 4 sore ya!” kata Siska padaku. “Ok deh!” jawabku cepat.
Saat yang aku tunggu udah datang, setelah mandi, berpakaian rapi dan pamit ke orang tuaku aku langsung berangkat ke rumah nenek Siska. Sampai dirumah Siska aku mengetuk pintu dan mengucap salam ibu Siska pun keluar dan mempersilahkan aku masuk.
“Eh Miun sini masuk dulu! Siskanya baru siap-siap.” kata beliau ramah. “Iya tante!” jawabku sambil masuk kedalam rumah. Ibu Siska tante Vini memang sudah kenal padaku karena aku memang sering main kerumah Siska. “Siska ini Miun udah datang” panggil tante Vini kepada Siska. “Iya ma bentar lagi” teriak Siska dari kamarnya.
Setelah selesai siap-siap Siska keluar dari kamar, aku terpesona melihatnya. “Udah siap ayo berangkat!” ajaknya padaku. Setelah pamit untuk pergi aku dan Siska pun langsung berangkat. Dari tadi pandanganku tak pernah lepas dari Siska. Aku teringat dulu saat terakhir kali bertemu Siska. Kami bersnda gurau, nyanyi-nyanyi gak karuan seperti orang gila, kejar sana kejar sini mengacau ketenangan orang-orang. Ah sudah lama sekali itu. “Hei ! Miun kenapa? Kok kamu dari tadi ngeliatin aku terus ada yang aneh?” tanyanya kepadaku. “Eh nggak apa-apa kok!”  jawabku kaget. Kami pun sampai di tempat tujuan. Kami naik ke lantai atas untuk mencari barang-barang yang diperlukan Siska. Setelah selesai mencari-cari barang yang diperlukan Siska kami pun memtuskan untuk langsung pulang kerumah. Sampai dirumah Siska aku disuruh mampir oleh tante Vini. “Ayo Miun mampir dulu pasti capek kan?” ajak tante Vini padaku. “Ya tante.” jawabku pada tante Vini.
Setelah waktu terasa sudah larut malam aku meminta ijin pulang. Aku langsung tarik gas Yaris biruku. Sampai dirumah aku langsung masuk kamar untuk ganti baju. Setelah aku ganti baju aku makan malam. “Kemana aja tadi sama Siska?” tanya ibuku padaku. “Dari jalan-jalan!” jawabku sambil melanjutkan makan. Selesai makan aku langsung menuju kamar untuk tidur. Tetapi aku terus memikirkan Siska. Kayanya aku suka deh sama Siska. “Nggak! Nggak boleh aku sudah kelas 3 SMA, aku musti belajar dengan serius karena 3 bulan lagi aku akan menghadapi UN yang sangat mengerikan bagi pelajar sekarang.” bisikku dalam hati.
Satu minggu berlalu, aku masih tetap kepikiran Siska terus. Akhirnya sore harinya Siska harus kembali ke Bandung lagi. Aku dan Vino datang ke rumah Siska. Ternyata keluarga Siska sudah siap untuk berangkat ke Bandung. Pada saat itu juga aku mengatakan kalau aku suka pada Siska.“Siska aku suka kamu! Kamu mau nggak kamu jadi pacarku” kataku gugup.“Maaf Miun aku nggak bisa !” jawabnya padaku. “Kita lebih baik Sahabatan kaya dulu lagi aja!” Aku memberinya hadiah kenang-kenangan untuknya sebuah kalung. Dan akhirnya Siska dan keluarganya berangkat ke bandara. Walaupun sedikit kecewa aku tetap merasa beruntung memiliki sahabat seperti Siska. Aku berharap persahabatan kami terus berjalan hingga akhir hayat nanti.
Kejadian ini telah membuat aku sadar bahwa Comradeship That Immortal persahabatan itu abadi

2 komentar:

  1. Perhatikan secara seksama label nya itu hnyalah sbuah khayalan yg didorong dgn berbagai cerita yg prnh didengar dirasakan dan dilihat

    BalasHapus